Genap & Ganjil





















Sudah berapa lama?
Setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Tujuh tahun?
Hingga kalimat-kalimat yang pernah tertulis kini asing bagi mataku.

Seringkali aku bingung,
Badan ini seperti punya sistem otomatis
Yang hanya mau patuh pada jam-jam tertentu
Yakni pukul genap dan pukul ganjil.

Masih mengetik, tanganku berusaha menyusun naskah yang mengendap dalam kepala
Hingga bulan bergulir, menggelindingi malam

Jam berapa sekarang?
Ah, masih 11.24 
Masih ada enam menit lagi sebelum setengah duabelas.
Ok, nanti waktunya genap lantas kita gosok gigi.
Atau sekalian 11.45 saja?
Kurang limabelas menit, cukup kok untuk cuci muka dan sholat isya...

Lain-lain waktu seperti ini :

Makan! Sudah siang begini!
Iya, sedikit lagi... *melirik jam
Ah, masih jam 12.17 - masih ada duabelas menit lagi.
Ah, masih jam 13.52 - masih ada satu jam delapan menit menuju pukul 3 sore.
Ah, masih jam empat, nanti sekalian jam lima baru istirahat.

Hingga aku mulai ketakutan dengan kebiasaan yang absurd ini. Takut bahwa sebenarnya aku sedang melalaikan waktu, hingga kadang kesadaran bahwa bilamana nanti di kubur aku disiksa malaikat, lalu ia pun menunggu sebelum berhenti.

Ah, masih tujuh menit lagi... Kurang tiga menit, supaya pas waktunya.

Walau angka-angka yang genap dan ganjil itu sesungguhnya sangat menyenangkan hatiku.


0 comments:

Ran Jiecess

Twitter @Jiecess

About

a freelancer who think she isn't cool enough to be everything yet.