Deklarasi Perang Kepada Lembab

Suatu sore saya pulang dengan bahagia, sejak dua bulan di kampung orang. Ingatan tentang kuliner Makassar yang menggiurkan berkelebat, menarik langkah untuk segera sampai di rumah.

Semua baik-baik saja, setelah berusaha melupakan seminggu beberapa hari sebelumnya ponsel saya dicuri orang, secara sangat rapi dan terencana. Apalagi dua hari setelahnya, menjelang tes IELTS di Surabaya yang menurut ingatanku - agak kacau balau.

Maka naiklah saya ke kamar, ruangan sederhana di lantai tiga. Rindu pada angin yang menerjang jendela, rindu pada ranjangku yang luas, dan pada buku-buku yang,...

Oh, tidak...




Dan itulah pertama kalinya saya benar-benar marah pada hujan.

2 comments:

Try Juandha said...

yah, kita kasi kering baek-baek memangmi. Jemur sempurnaki. Jangan sampe lembab

Ran Jiecess said...

deh, maunya mi saya tebar di lapangan ini... terlanjur keriting tapi' kertasnya, yg hitam ini disikat pake sikat gigi tapi tetap berbekas... :/

Ran Jiecess

Twitter @Jiecess

About

a freelancer who think she isn't cool enough to be everything yet.